Ngobrol Bareng Lodewiyk Cornelis Ticoalu Tentang Industri Radio di Tahun 90an

Blistener, ternyata banyak penyiar radio zaman dulu yang pakai nama palsu loh! Hah, gimana maksudnya? 

Kali ini BVoice Radio berkesempatan untuk mengobrol dengan seorang penyiar dari era tahun 90an. Lodewiyk Cornelis Ticoalu, atau yang kerap dipanggil Lody, adalah mantan penyiar di Kis fm, Ramako Magic, dan CNJ. Ia telah menghabiskan 12 tahun hidupnya sebagai seorang penyiar, mulai dari tahun 1996 hingga 2008.

 

B: BVoice

L: Lody

 

B: Awal mula masuk ke dunia radio tuh gimana sih? Boleh dong, ceritain perjalanan karir Kak Lody.

L: Keinginan untuk masuk ke dunia radio sudah ada sejak muda karena saya memang dasarnya menyukai musik. Kebetulan saya ada di keluarga yang sangat musikal. Dari pagi hari sampai malam tiba, selalu ada lantunan musik yang diputar oleh anggota keluarga saya atau saya sendiri.

Setiap kali mendengar radio, selalu ada angan-angan untuk menjadi seorang penyiar. Kesempatan itu akhirnya datang pada akhir tahun 1996 ketika stasiun radio Kis fm sedang mencari penyiar-penyiar baru. Kis memutar musik dengan genre 70, 80, dan 90an. Kebetulan saya sangat familiar dengan musik tahun 70an. Saya memulai siaran disana dan ternyata menjadi seorang penyiar sangat sesuai dengan apa yang saya bayangkan! Saya bertahan cukup lama di Kis fm, yaitu selama 6 setengah tahun.

Setelah 6 setengah tahun, saya dijadikan pilot project untuk pindah ke stasiun radio lain yang masih dalam satu grup perusahaan(Ramako Jaya Raya) yang sama dengan Kis, yaitu Ramako Magic. Ramako Magic menjadi tantangan baru bagi saya karena format radio ini bukan hanya membawakan lagu, tetapi juga harus menyajikan berita bernuansa politik yang cenderung sensitif. Saya harus membawakan berita berupa isu-isu yang tengah terjadi dan dibahas secara mendalam bersama narasumber yang mewakili pihak media. Narasumber-narasumber ini adalah orang-orang yang sangat kompeten dan sangat kritis, sehingga pengetahuan saya juga harus berimbang dengan mereka. Pesan sponsor pada saat itu adalah: “Bila tidak yakin akan apa yang diucapkan, sebaiknya tidak diucapkan.” Karena apapun yang dibicarakan akan terekam dalam bentuk bukti siar yang nanti akan dipertanggungjawabkan. 

Biasanya yang ngobrol tuh antar narasumber, saya juga ikut nimbrung kalo saya paham mengenai topiknya. Misalkan, bila ada 4 narasumber yang berbicara, tugas utama  saya adalah menjaga agar keempat orang ini tidak saling nabrak ketika mengobrol. Namun, disaat yang sama menjaga pace-nya agar terdengar seru di telinga pendengar. Saya menjadi penyiar di Ramako selama 3 setengah  tahun.

Setelah Ramako, saya part time di 2 tempat kerja. Pekerjaan pertama saya adalah sebagai VO di production house bernama Fremantle untuk program acara game show yang ditayangkan di stasiun televisi swasta. Pekerjaan saya yang kedua adalah menjadi penyiar di CNJ radio(Sekarang udah berubah nama jadi Ninety Nine) yang memiliki format Jazz dan klasik. CNJ adalah singkatan dari Classical News and Jazz. Namun, news contentnya sendiri tidak terlalu banyak karena memang fokus mereka ada pada musik klasik dan Jazz. 

 

B: Apakah Kak Lody nggak keteteran bekerja di dua tempat seperti itu?

L: CNJ dan Fremantle sama-sama berlokasi di tengah kota, jadi tidak membutuhkan waktu yang lama kalau mau bolak-balik. Kemudian, berbeda dengan Ramako, di CNJ saya bisa tapping(rekaman). Jadi saya tidak harus siaran secara real time karena tidak membawakan berita-berita live seperti ketika di Ramako. CNJ siarannya cenderung lebih santai.

 

B: Kenapa Kak Lody behenti menjadi penyiar setelah CNJ?

L: Karena saat itu (2008) saya pindah ke Timur Tengah untuk mendalami F&B operations di sebuah casual dining. Saya membutuhkan tantangan baru di industri yang baru.

 

B: Dari ketiga siaran radio Kis, Ramako, dan CNJ, Kak Lody paling enjoy siaran dimana?

L: Saya senang menjadi penyiar di ketiga radio ini, tapi kalau disuruh pilih satu, saya pilih Ramako karena tantangannya besar. Kami harus benar-benar berpengetahuan karena yang banyak dibahas adalah hal-hal sensitif. Ramako dikenal sebagai radio yang kritis. Para penyiar nggak boleh salah ngomong.

 

B: Di awal, kak Lody bilang bahwa kakak bisa masuk ke dunia radio karena ada pengaruh dari keluarga yang hidup dikelilingi musik. Lalu kenapa tidak mengejar karir di bidang musik saja? Kenapa harus masuk ke dunia radio? 

L: Saya nggak suka tampil. Kalau berkarir di dunia musik, saya otomatis akan dikenal banyak orang. Konsekuensi saya tampil dihadapan orang adalah saya akan menjadi milik banyak orang. Saya tidak akan lagi punya kehidupan pribadi karena orang-orang memperhatikan apapun yang saya lakukan. Jadi saya memilih untuk tidak perform.

 

B: Tapi, sebagai seorang penyiar radio, bukannya harus tampil di depan publik juga? Kan suara Kak Lody harus didengar banyak orang?

L: Radio zaman dulu agak sedikit berbeda dengan radio zaman sekarang.  Pas saya di Kis dan Ramako, kami, para penyiar, menyembunyikan hampir seluruh identitas kami. Kami menggunakan nama yang berbeda dengan nama asli dan membangun sebuah coorporate identity. Coorporate identity adalah bagaimana kita membangun profil kita, sehingga profil kita itu yang diingat orang. Maka, sampai sekarang ada yang memanggil saya dengan sebutan “Ricky” dibanding nama asli saya sendiri, karena itulah yang ada di ingatan mereka. Yang menarik dari zaman dulu tuh, kami menciptakan sebuah figur melalui suara dan personality kami. Kemudian pendengar mengimajinasikan sosok kami melalui personality yang tampilkan. 

 

B: Apakah dulu semua penyiar di Kis dan Ramako menggunakan nama palsu?

L: Iya!

 

B: Tapi kalau mau pakai nama asli, boleh atau engga?

L: Engga boleh. Jadi dulu tuh, sudah ditentukan tema coorporate identity-nya. Kalau dulu di Kis, kami menggunakan kategori nama batu-batuan, sementara di Ramako menggunakan nama-nama elemen tata surya. Nama saya di Kis dulu adalah “Ricky Stone”, sementara nama saya di Ramako adalah “Lody Lunar”. 

 

B: Apa pendapat/pandangan Kak Lody mengenai radio zaman sekarang yang tidak lagi memiliki unsur anonimity tersebut? Bahkan, sekarang industri radio disebut sebagai ‘jembatan’ untuk masuk ke dunia entertainment, dimana semua penyiar ingin sekali tampil di depan publik.

L: Dulu, banyak penyiar yang masuk ke dunia radio for the sake of it. Saya menjadi penyiar karena saya benar-benar senang bercerita kepada pendengar dan memutarkan musik untuk mereka. Kalau zaman sekarang, banyak orang menjadi penyiar hanya supaya wajah mereka tampil dan dikenal. Generasi sekarang akhirnya lebih mementingkan eksistensi pribadi dibandingkan konten apa yang mereka bawakan. Sebagian besar penyiar zaman dulu masuk radio karena passion, sementara penyiar zaman sekarang masuk ke dunia radio sebagai batu loncatan ke dunia entertainment. Siaran menjadi sebuah mission instead of passion for them.

 

B: Ngomong-ngomong, kesibukan Kak Lody sekarang apa?

L: Begitu pulang dari Timur Tengah, saya membantu mengurus cafe kakak saya, yaitu Kaneel Cafe. Cafe ini menyajikan makanan khas Dutch x Manado dan berlokasi di Tanjung Duren, Jakarta Barat. Selain Kaneel, saya tidak memiliki kesibukan apapun lagi.

Cafe Kaneel, tempat Kak Lody sekarang bekerja

 

B: Apakah ada rencana untuk kembali berkecimpung di dunia radio? 

L: Ada. Tapi saya belum bisa bahas mengenai ini. Ditunggu saja ya!

 

B: Apakah ada kata-kata atau saran buat anak-anak yang ingin berkarir di dunia radio?

L: Be smart and bright. Jadilah seseorang yang tidak hanya pintar, tetapi bisa berbicara sambil berpikir.

 

B: Terakhir, motto hidup Kak Lody apa sih? 

L: Carefree. Kalau kita memikirkan semua hal, kita hanya menambah beban hidup. Hidup harus dinikmati.

 

Nah itu dia Blistener, kisah Lody, seorang penyiar dari tahun 1990an hingga 2000an. Ternyata dunia radio pada zaman dulu tuh beda banget ya! Kamu lebih prefer penyiar tempo dulu yang bersembunyi dibalik nama samaran, atau penyiar zaman sekarang yang selalu tampil paling depan?

 

 

Don’t forget to follow our social media for more information!

Instagram: @bvoice_radio 

Twitter: @bvoice_radio 

Facebook: BVoice Radio 

Line@: @jfn14361 

YouTube: BVoice Radio

 

(Writer: Ellena Ruth Wangsa / BVoice Radio)

(Editor: Zaki Zaidaan Rachman / BVoice Radio)

More Like This