MENGULIK “TASTE” FASHION AVRIDYA KEUMALA

Berbicara tentang fashion, pasti kita membicarakan tentang perkembangan mode pakaian atau aksesoris yang diciptakan oleh tren pada masa itu. Tapi Blisteners tau gak sih, kalau penciptaan mode itu berada di tangan seorang fashion designer? Kira – kira seorang fashion designer itu seperti apa ya?

Nah buat lo yang kepo, tenang aja! karena Reporter Bvoice Radio Regita Dewi (R) mendapat kesempatan untuk berbincang dengan salah satu fashion designer muda Indonesia, Avridya Keumala (A). Yuk, kenalan dengan salah satu millennial berprestasi ini.

R: Hai Kak Avridya! sekarang lagi sibuk ngapain nih ?

A: Hai, Sekarang gue lagi jadi asisten dosen di BINUS Nothumbria School Of Design, khususnya di fashion design. Gue juga lagi jadi fashion design and creative consultant di studio gue sendiri yaitu Keum Studio. Dan lagi rebranding label fashion gue, AVRiDYA KÉUM yang lagi vakum saat ini.

R: Ceritain dong Kak gimana lo bisa kepikiran untuk jadi fashion designer!

A: Awal gue bermimpi untuk jadi fashion designer itu sejak SMP.  Gue itu dari kecil udah suka seni, apalagi gue nemuin kesenangan dari mix and matching  style dan semakin dewasa gue suka design,proporsi dan warna jadi gue memilih untuk ngambil fashion design.

R: Selama 7 tahun di bidang fashion, prestasti apa aja yang pernah diraih?

A: Di tahun 2015, brand gue AVRiDYA KÉUM  masuk Vogue Italia dan Vogue UK, walaupun cuma di websitenya tapi itu merupakan prestasi besar bagi gue. Sebenernya lebih ke lucky sih, soalnya gue waktu itu ikut Graduate Fashion Week dari BINUS dan gue kepilih untuk masuk ke Vogue. Di tahun yang sama, gue jadi runner up di Indonesia Fashion Design Competition dan dapat beasiswa untuk ke Italia, tapi beasiswanya gak diambil karna gue dapet tawaran untuk jadi asisten dosen di BINUS dan gue pilih itu.

Salah satu karya Avridya yang masuk Vogue Italia dan Vogue UK nih. Keren ya Blisteners? 😀

R: Apa ciri khas dari karya Kak Avridya Keumala?

A: Karya gue selalu terinfluence sama culture mau itu pop culture maupun kebudayaan itu sendiri, misalnya waktu Indonesia Fashion Week kemarin gue ngambil kebudayaan dari Museum Fatahillah atau waktu Graduate Fashion Week itu gue ambil dari british dandy dan korean popculture. Tapi design gue masuknya ke structure,clean dan lebih nge explore di materialnya.

R: Sebagai fashion designer pasti terlibat dong sama penciptaan mode saat ini, apakah tren mode yang dipakai ini terpengaruh oleh gaya lo sehari hari?

A: Untuk design gue yang unisexwear dan menswear, masuknya ke gaya waktu gue masih SMA yaitu street style dan tailoring .Tapi untuk womenswear gue bikin yang lebih dewasa,simple,clean dan elegant. Jadi untuk gaya sehari hari gue yang casual chic, lebih gue masukin di womenswear namun tetep di semua design, pasti ada personality gue.

AVRiDYA KÉUM di Indonesia Fashion Design Competition dengan tema Museum Fatahillah

R: Apa yang membuat Kak Avridya percaya diri dengan karya yang lo buat?

 

A: Hal yang bikin gue percaya diri sama karya gue itu, keyakinan. Gue harus yakin sama message  apa yang akan gue sampaikan ke masyarakat melalui karya gue. Karna setiap gue bikin design, gue pasti menyisipkan message di karya gue. Gak cuma itu, gue juga selalu berinovasi dan ga pernah stop untuk melakukan research.

R: Dalam berkarya siapa muse lo, Kak?

A: Muse itu tergantung gue lagi suka sama siapa, tapi kebanyakan muse gue itu model atau orang-orang yang personalitynya kuat dan punya style sendiri.  Misalnya untuk unisexwear, ada  G-dragon karena gayanya eclectic dan bisa membuat semua style yang dipakai sama dia itu cocok. Makanya dia pas banget buat jadi muse collection unisexwear gue. Untuk collectionnya sendiri kalo dari pakem-pakem tailor  itu menswear dan streetwear tapi beberapa bahannya memang feminine jadi cewe bisa pakai.  Nah buat womenswear biasanya gue lebih ke cewek-cewek Perancis kayak Jane Birkin atau Alexa Chung yang casual tapi tetep spirit gitu. Jadi gue gak terpatok sama satu orang untuk inspirasi karya gue.

 

R: Terus untuk role modelnya siapa?

A: Sebagai designer role model gue itu, Raf Simons. Menurut gue dia bisa jadi designer apapun tapi tetep ga pernah ngilangin jati dirinya walaupun dia kerja di Dior, bikin brand sendiri atau sekarang di Calvin Klein dan dia itu seseorang yang sangat visioner.

ini salah satu karya Avridya Keumala untuk Brandnya AVRiDYA KÉUM loh Blisteners!

R: Buat Avridya Keumala dari Milan, New York, Paris dan London mana yang paling berpengaruh sama dunia fashion?

A: Kalau buat gue London ya, soalnya London itu sangat mempengaruhi tren . Gak cuma itu, disana juga support banget sama para fashion designer. Dari sisi kreatif london juara karena semua tren ada disana walaupun untuk bisnis lebih ke Paris sih ya, tapi bisnis fashion di London juga tetap jalan. Dan British culturenya London merupakan inspirasi gue banget.

R: Semua yang udh di capai sekarang itu udah memenuhi impian lo belum? Apa itu impian bagi seorang Avridya Keumala?

A: Sebenernya belum ya, soalnya gue masih baru banget jadi fashion design and creative consultant ini dan brand gue juga lagi vakum, jadi gue masih harus banyak research dan explore apapun. Apalagi di design menurut gue itu ga boleh stop, gue harus tetep bergerak ke depannya mau apa. Hmm…impian menurut gue itu proses, untuk mencapai impian itu gabisa instan dan harus melewati suatu proses yang pastinya dibutuhkan komitmen. Jadi impian itu harus dikejar melalui proses. Kalau lo ga bisa ngelakuin itu semua gue yakin sih impian itu gak bisa tercapai.

Nah kira- kira seperti itulah fashion designer, Blisteners. Gimana tertarik untuk jadi seperti Avridya Keumala? 😀

 

Penulis  : Regita Dewi ( Reporter / Bvoice Radio )

Editor    : Dewinda Sekartaji ( Reporter / Bvoice Radio )

More Like This